MODEL EDUKASI STOP WPV v.2

Latar Belakang

Penguatan keselamatan perawat, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien

Keselamatan pasien merupakan salah satu pilar utama mutu pelayanan rumah sakit. Penerapannya sangat dipengaruhi oleh budaya keselamatan yang mencakup kerja sama tim, komunikasi terbuka, pelaporan insiden, dukungan manajerial, dan pembelajaran organisasi.

Dalam konteks ini, keselamatan perawat sebagai pemberi pelayanan perlu mendapat perhatian yang setara karena kondisi kerja yang tidak aman dapat berdampak langsung pada mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Kekerasan di tempat kerja pada perawat masih menjadi tantangan yang serius. Berbagai bentuk kekerasan, terutama kekerasan nonfisik seperti pelecehan verbal, ancaman, dan intimidasi, dapat menimbulkan stres, gangguan kesehatan, penurunan rasa aman, serta memengaruhi kinerja tenaga keperawatan.

Namun, banyak kejadian tidak dilaporkan karena kekerasan masih dianggap sebagai bagian dari pekerjaan, mekanisme pelaporan belum dipahami secara memadai, terdapat kekhawatiran akan disalahkan, dan dukungan organisasi belum dirasakan secara optimal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan WPV tidak dapat bergantung sepenuhnya pada keterampilan individu. Pencegahan memerlukan pendekatan yang terintegrasi melalui penguatan pengetahuan, komunikasi asertif, strategi de-eskalasi, psychological safety, dukungan organisasi, serta sistem pelaporan yang mudah diakses dan diikuti dengan tindak lanjut yang jelas.

Model Edukasi STOP WPV v.2 dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pelaksanaannya menggunakan pendekatan pembelajaran interaktif melalui ceramah singkat, diskusi kelompok, studi kasus, role play, demonstrasi, dan simulasi penggunaan aplikasi. Dengan demikian, edukasi tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan keterampilan praktis dan perilaku pelaporan kekerasan di tempat kerja secara tepat.