Kembali ke Edukasi
Informasi Umum
Komunikasi Asertif dan Teknik De-eskalasi bagi Perawat
16/08/2026
· 1 menit baca
· 66 pembaca
Pelajari cara berkomunikasi secara tenang, tegas, dan menghargai untuk membantu menurunkan ketegangan dalam situasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan.
Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan informasi, kebutuhan, dan batasan secara jelas, tegas, serta tetap menghargai orang lain. Dalam situasi yang mulai memanas, komunikasi asertif dapat digunakan sebagai bagian dari proses de-eskalasi.
Prinsip Komunikasi Asertif
Gunakan nada bicara yang tenang dan tidak menghakimi.
Dengarkan tanpa memotong pembicaraan.
Tunjukkan empati terhadap perasaan dan kekhawatiran lawan bicara.
Sampaikan informasi menggunakan kalimat yang singkat dan mudah dipahami.
Tetapkan batasan secara tegas apabila muncul perilaku mengancam.
Contoh Kalimat De-eskalasi
“Saya memahami bahwa Bapak/Ibu sedang merasa kecewa.”
“Mari kita bicarakan masalah ini dengan tenang agar kami dapat membantu.”
“Saya akan menjelaskan informasi yang tersedia secara bertahap.”
“Kami ingin membantu, tetapi mohon berbicara tanpa mengancam atau melakukan kekerasan.”
Posisi dan Bahasa Tubuh
Jaga jarak aman, gunakan posisi tubuh terbuka, hindari menyentuh orang yang sedang marah, dan jangan menghalangi jalur keluar. Pastikan rekan kerja mengetahui situasi yang sedang terjadi.
Kapan Harus Menghentikan De-eskalasi?
De-eskalasi harus dihentikan apabila terdapat senjata, ser yang jelas, serangan fisik, atau kondisi yang tidak dapat dikendalikan. Segera menjauh ke lokasi aman, meminta bantuan petugas, dan menggunakan Panic Button jika diperlukan.
De-eskalasi bukan berarti perawat harus menerima kekerasan. Perawat tetap berhak memperoleh perlindungan, bantuan, dan tindak lanjut dari organisasi.